March 20, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, OPINI – Menjelang pemilihan presiden (Pilpres) tahun 2019 konflik dan isu yang berbau SARA tidak ketinggalan seakan-akan ini menjadi budaya dalam berpolitik di negeri ini. Politik agama menjadi sebuah hal yang menarik untuk kepentingan kekuasaan di Indonesia. Sentimen keagamaan juga akan selalu menjadi sumber kepentingan-kepentingan politik yang akan terus berlanjut bahkan sampai terpilihnya sosok pemimpin yang di agungkan oleh masyarakat. Di Indonesia jadi sesuatu yang menarik dan menggelitik ketika agama dipakai untuk kepentingan kekuasaan. Agama akan selalu jadi sumber kepentingan-kepentingan politik, dan isu agama akan selalu digunakan untuk memenangkan hati masyarakat.

Isu berbau politik agama ini seakan-akan menjadi senjata ampuh untuk mendapat dukungan dari masyarakat yang menjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam negara demokrasi. Namun yang paling disayangkan dalam polemik sekarang ini adalah beredarnya berita-berita yang belum tentu kebenarannya bahkan kabar yang tidak benarpun di umbar dalam media, pencitraan bakal calon ada dimana-mana, sampai para pendukung saling mencaci maki, dan ujaran kebencianpun tak ketinggalan, tindakan ini menghasut orang lain untuk membenci pihak tertentu dengan mengeksploitasi sentimen identitas, baik agama, warna kulit, jenis kelamin, orientasi seksual, ideologi politik, dan variabel sejenisnya. Dalam ajang kontestasi politik, ujaran kebencian kerap dipakai pihak tertentu untuk menjatuhkan lawan politik sekaligus menarik simpati publik. Tidakkah seharusnya kita melihat dan lebih menyadari bahwa masyarakat mulai terpecah belah entah karena perbedaan pilihan, pendapat, atau telah menelan mentah-mentah isu ujaran-ujaran kebencian yang telah beredar.

Tidak dapat dipungkiri isu SARAlah yang menjadi biang kerok hingga terjadinya perpecahan dalam masyarakat dan telah menjadi hasil dari strategi politik. Bukti nyata dari semua perpecahan itu bisa kita lihat dari perdebatan-perdebatan dari setiap pendukung masing-masing capres dan cawapres yang terpampang nyata di sosial media yang sekarang mejadi tren zaman milenial. tidak ketinggalan, isu-isu hoax yang beredar di internet entah itu tentang ujaran kebencian, kejelekan dari para figur yang siap bertanding di pilpres 2019, maupun aib yang sebenarnya tidak pantas dan telah melanggar hak-hak privasi seseorang telah hadir mewarnai politik di negeri ini.

Pertarungan politik untuk merebut kekuasaan sebenarnya sah-sah saja hanya jangan kemudian menghalkan segala cara. Pendewasaan dalam bertindak amatlah perlu dan dalam menerima setiap berita atau informasi kita perlu memfilter atau menyaring berita tersebut itulah yang harus kita lakukan sebagai masyarakat yang nantinya akan menentukan pilihan ditahun 2019. Karena pilpres 2019 bukan hanya arena pertempuran bagi pasangan calon capres-cawapres, tapi juga pertaruhan moral dan demokrasi bagi bangsa ini. Baik buruknya aksi politik kedua belah pihak, akan dirasakan warisan moralnya bagi bangsa ini di masa depan.

 

Penulis: Noviyanti Malaha, Sekretaris Umum UKM Bahasa dan Jurnalistik UNIDAYAN

No Comments