July 21, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, KENDARI – Puluhan organisasi perempuan di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) sepakat menyatakan perlawanan segala bentuk radikalisme dan terorisme masuk di Sultra. Selain itu, mereka juga menolak lahir serta munculnya berita hoaks dan masalah SARA.

 

Hal itu disampaikan saat acara workshop pelibatan perempuan dalam pencegahan radikalisme dan terorisme Badan Nasional Pencegahan Terorisme bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Sultra di salah satu hotel di Kendari, Kamis (11/7/2019).

 

Kepala Subdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Dr. Hj Andi Intan Dulung mengatakan, perempuan sangat berperan penting dalam mencegah timbulnya faham radikalisme di lingkungan keluarga bahkan masyarakat.

 

Terlebih, kata ia, kasus bom beberapa waktu lalu seperti yang terjadi di Surabaya dan Sibolga secara jelas menunjukkan kepada halayak publik bahwa betapa militansinya seorang ibu rumah tangga merelakan nyawanya untuk melakukan aksi bom bunuh diri.

 

“Dari peristiwa itu, sepatutnya membuka mata kita semua, ketika seorang istri itu lebih militan dibanding suaminya.  Yang rela mengorbankan jiwanya bahkan bersama anak-anaknya melakukan bom bunuh diri tanpa rasa takut sedikitpun,” ucap Andi Intan

 

Menurutnya, kearifan lokal yang selama ini dikawal tokoh masyarakat merupakan salah satu unsur untuk mencegah timbulnya faham radikalisme di lingkungan masyarakat, terkhusus di daerah.

 

“Semangat kedaerahan perlu terus ditanamkan, agar terhindar dari adanya faham radikalisme,” tegasnya.

 

Pada workshop yang bertemakan perempuan agen perdamaian juga menghadirkan salah seorang Deportan Syuriah yang pernah direkrut organisasi ISIS, Febri Ramdhani (20).

 

Kurun waktu 2016-2017, Febri keluar masuk wilayah Syuriah menjadi seorang simpatisan, meski tidak sempat mengikuti wajib militer. Sepanjang perjalanannya bergabung dengan kelompok ISIS semuanya yang dijanjikan seperti jaminan hidup sejahtera dengan menerima aneka fasilitas dengan mudah ternyata jauh dari harapan.

 

“Semua janji yang pernah kita baca atau tonton lewat berbagai media sosial maupun komunikasi secara personal hanyalah sebuah ilusi. Semuanya jauh dari harapan dan kenyataan,” kenangnya.

 

Laporan : TIM

No Comments