“Polemik PT. SSU” Hasil Tim Investigasi Berbeda Dengan Kenyataan di Lapangan, FMMLT-Kabut Ancam Aksi Kembali Serta Akan Sampaikan ke DPR RI

 

SULTRALINE.ID, KENDARI – Polemik permasalahan perusahaan tambang PT. Surya Saga Utama (SSU) yang terletak di Kabaena, Kabupaten Bombana, masih terus saja bergulir. Pasca aksi yang dilakukan Front Mahasiswa dan Masyarakat Lingkar Tambang Kabaena Utara (FMMLT-Kabut) beberapa waktu lalu yang menyambangi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sultra, bahwa pihak DLH dan Disnakertrans berjanji akan melakukan investigasi terkait dugaan pencemaran lingkungan dan beberapa kasus mengenai tenaga kerja yang dilakukan PT. SSU.

Menurut Erik Marzuki, pada 2 November 2018 FMMLT-Kabut bersama DLH dan Disnakertrans Sultra melakukan tindak lanjut aksi (investigasi) mengenai kasus dugaan pencemaran lingkungan dan beberapa kasus mengenai tenaga kerja yang dilakukan oleh PT. Surya Saga Utama (SSU). Namun jenlap aksi Erik Marzuki merasa kecewa karena dilarang masuk dalam area PT. SSU untuk menemani tim investigasi dari kedua instasi itu untuk membantu dan memastikan kinerja dari kedua instansi tersebut.

“Seiring waktu, Pada 14 November 2018, saya dan beberapa teman (Yayan dan Waode Sitti Veni) datang kembali bertandang di dua instasi itu untuk mempertanyakan hasil investigasi. Namun hasil investigasi belum clear, kemudian dilanjutkan diskusi tepatnya pukul 10.00,” tutur Erik Marzuki saat dijumpai di salah satu warkop di Kendari, Minggu (18/11/2018).

Mendapat jawabwan itu, ia merasa kecewa dengan jawaban dari tim investigasi DLH Sultra. Pasalnya jawaban yang diperoleh tidak sesuai apa yang didapat dari hasil penulusuran Erik dan kawan-kawan.

Kemudian Erik bertanya ke pihak DLH Sultra “Bu, apakah tidak ada pencemaran lingkungan mengenai limbah PT. SSU yang masuk kedalam Hutan?” .

Lalu pihak DLH Sultra menjawab “Tidak ada, kami sudah keliling di semua di area PT. SSU tidak ada limbah yang kalian maksudkan,” ucap Erik menirukan perkataan tim investigasi.

karena kesal dan merasa tidak percaya dengan jawaban tim investigasi DLH Sultra, ia menunjukan sebuah vidio singkat dugaan pencemaran lingkungan atau limbah yang masuk dalam hutan yang dihasilkan oleh PT. SSU, berjalan beberapa detik dalam video, disela-sela pemutaran video, salah satu tim investigasi mengatakan [“ini bukan limbah tapi endapan”. Lalu ia menjawab “Tunggu bu, coba lihat lanjutannya”. Ibu itu lalu melihat dan menjawab kembali “kalau ini, limbah slag” lalu Erik menjawab kembali “Bukankah endapan itu dihasilkan dari limbah slag” kemudian salah satu dari tim investigasi bertanya “dari mana kamu dapatkan vidio itu, saya kira disana (PT. SSU)  dijaga dengan ketat “karena kesal dengan diskusi erik menjawab “saya ambil ini vidio sebelum saya datang melaporkan disini”] urai Erik saat melakukan percakapan dengan pihak DLH Sultra.

Padahal video itu diambil 4 (empat) hari setelah investigasi, tepatnya pada tanggal 7 November 2018. Dan tidak lama kemudian ia bersama salah satu temannya (Wa ode Sitti Veni) pamit dan meninggalkan DLH Sultra untuk menuju Disnakertrans Sultra.

Sekira pukul 14.00, dirinya bertandang ke Disnakertrans Sultra.untuk mempertanyakan hasil dari investigasi. Namun hasil investigasi belum juga selesai, Disana ia dan Yayan melanjutkan diskusi dengan salah satu tim investigasi atas nama pak “Umar”, sambung Erik, suasana diskusinya sangat dingin berbeda dengan suasana diskusi di saat berada di DLH Sultra dan beberapa hal yang hal yang dinyatakan oleh pak Umar bahwa di PT. SSU saat ini belum ada karyawan yang membidangi K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), “BPJSnya belum terbayarkan dari bulan Juni sampai sekarang, untuk kasus lainnya kami selain penetapan dari kasus kecelakaan kerja atas nama pak Muh.  Arfik kami masukkan dalam nota dan nota itu bersifat rahasia dan tidak bisa di ketahui sama siapapun” kata pak Umar kepada Erik.

Berselang sekitar 1 jam, ia dan kawan lalu pamit dari Disnakertrans  Sultra. Namun karena merasa kurang percaya atas kinerja di salah satu instansi Erik Marzuki dan kawan-kawan akan melanjutkan kasus ini.

“Kami akan melanjutkan dengan aksi demonstrasi di Dinas Energi Sumber Daya Mineral Sultra pada minggu depan dan akan mengirim surat komisi 7 (tujuh)  DPR RI agar persoalan dugaan pencemaran lingkungan ini dapat dituntaskan,” tegas Erik.

 

Laporan : Tim Sultraline.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.