October 17, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, KENDARI – Buruknya infrastruktur jalan masih menjadi persoalan utama provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), terlihat banyaknya jalan raya beraspal penghubung antar Kabupaten/Kota mengalami kerusakan cukup parah. Ditambah lagi belum lama ini wilayah Sultra diselimuti hujan dengan intensitas besar yang mengakibatkan kerusakan jalan begitu cepat.

 

Pengamat infrastruktur jalan Sultra, Dr. Edward Ngii, ST, MT menilai kondisi itu tidak terlepas adanya aktivitas perusahaan pertambangan yang ada di bumi anoa.

 

Terlebih menurutnya, jalan merupakan urat nadi penting dalam tumbuh kembangnya suatu daerah tersebut yang seakan luput dari perhatian para perusahaan tambang yang ada di Sultra.

 

“Perlu kita ketahui bahwa kerusakan jalan disebabkan pada umunya karena beban yang gandar atau melebihi dari standarnya yang hanya  8 ton saja, tapi jalan-jalan kita ini dilalui mobil yang diatas 8 ton bebannya dan kebanyakan mobil-mobil tersebut milik perusahaan tambang, sehingga daya rusak jalan begitu cepat dirasakan,” ungkap Dekan Fakultas Teknik Universitas Halu Oleo (UHO) saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (11/7/2019).

 

Dengan kondisi itu, kata ia, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus tegas terhadap para investor –investor tambang yang beroperasi di Sultra, khususnya bagaimana mengalokasikan perbaikan atau pemeliharaan jalan menjadi prioritas, agar kedepan tak ada lagi yang saling menyalahkan akibat rusaknya jalan.

 

“Perusahaan tambang harus nyata memberikan kontribusi untuk daerah bukan hanya memberikan retribusi saja yang tidak seberapa, sehingga plot anggaran pemeliharaan jalan meningkat,” katanya.

 

Ia menilai, sambung ia, alokasi pemeliharaan jalan saat ini sangat minim sekali, padahal seharusnya jalan raya beraspal membutuhkan anggaran besar untuk pemeliharan secara berkala.

 

“Anggaran pemeliharaan jalan sangat kecil, apalagi dengan dilalui kendaraan yang besar yang sedikit amblas harus diperbaiki kalau tidak segera diperbaiki rusaknya semakin parah dan yang paling dirugikan kondisi itu tentunya masyarakat sekitar daerah tesrebut yang sehari-harinya melalui jalan beraspal itu,” ucapnya.

 

Dengan maraknya kerusakan jalan beraspal, Alumni Doktor UGM ini menyarankan kepada pemerintah untuk perbaikan jalan khususnya daerah-daerah tambang sebaiknya menggunakan bahan beton yang diyakini daya tahannya cukup kuat dari aspal.

 

Tambah ia, jalan beton sudah terbukti akan kekuatannya, walaupun anggaran pengerjaaan agak besar dari jalan aspal, tapi daya tahannya cukup lama dan kuat dari jalan bahan aspal.

 

“Kalau mau anggaran pemeliharannya itu sedikit, jalan-jalan yang dilalui mobil tambang itu di beton saja, karena jika aspal tentunya akan cepat rusak, sehingga pemda juga tidak pusing memikirkan pemeliharan ditiap tahunnya,” pungkasnya.

 

Laporan : Irdwan Jeko

No Comments