Peduli Sastra, Rumah Andakara Sultra Ajak Sastrawan Lokal Keluar Dari Zona Nyaman nya

SULTRALINE.ID, KENDARI – Peduli kelestarian sastra lokal, rumah Andakara Sulawesi Tenggara (Sultra) mengelar pagelaran seni dan sastra dengan mengambil tema “Pada suatu ketika Sastra Bernada”, di kompleks Citraland Kendari, Jumat 2 Februari 2018.

Beragam seni dan sastra yang ditampilkan dari pembacaan puisi, musikalisasi puisi dengan menggunakakan gitar klasik, pembacaan fiksi mini dan pembacaan dongeng.

Ketua rumah Andakara Sultra, Wa Ode Nur Iman, mengungkapkan bahwa tujuan kegiatan tersebut untuk memasyarakatkan sastra, karena pegiat sastra di Sultra khususnya Kendari ini banyak talenta, hanya saja tidak menemukan tempat dan teman yang sesuai.

“Kalau ada pertunjukan puisi dan teater itu pasti tempatnya itu-itu saja. Dan kalaupun ada penonton nya paling tidak banyak. Jadi kita sengaja membawa sastra itu keluar dari zona nyamannya, agar bisa diperkenalkan di masyarakat umum, sehingga sastra itu bisa di nikmati tempat umum tidak monoton dalam ruangan,” kata  Wa Ode Nur Iman, usai kegiatan.

Ditambahkan juga, sebelum diselenggarakan di luar, pihaknya sempat membawa di hotel. Dan ini langkah awal untuk memperkenalkan sekaligus test cash untuk kegiatan selanjutnya.

“Insya Allah kegiatan seperti akan kami lanjutkan antara Juni  atau November. Yang pastinya kehadiran Kami ingin mengajak sastrawan-sastrawan lokal dan Nasional yang sudah ternama. Tapi soal karya teman-teman sastrawan di Sultra itu tidak kalah dengan yang di Nasional. Karena banyak yang telah mengikuti event-event Nasional dan itu harus terus dikembangkan,” tandasnya

Sementara itu Jaelani Saifullahi salah satu tokoh pemuda penikmat sastra dan budaya Sultra mengatakan bahwa sastra itu harus melampau ruang-ruang diluar zona nyamannya. Jangan hanya terkungkung dalam satu paradigma bahwa sastra itu hanya bisa di nikmati oleh sastrawan. Bahkan harus lebih jauh lagi membudayakan sastra ke ruang2 yg lebih luas.

“Penikmatnya tidak hanya pada kaum tua, tapi kaum muda bahkan anak-anak harus pahami budaya sastra. Karena tonggak berdirinya bangsa ini juga tidak lepas dari para sastrawan dan budayawan. Namun kini sastra dan budaya itu pelan-pelan tergerus oleh zaman,” terangnya

Jay sapaan akrabnya juga berharap peran pemuda untuk mengembangkan dan melestarikan  sastra dan budaya agar tetap eksis di tengah kemajuan teknologi.

“Karena sastra dan budaya bangsa Indonesia bisa bertahan sampai kapanpun itu,” pungkasnya

Laporan: Irdwan Jeko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.