Over Kuota di 2017, Penyaluran Elpiji Bersubsidi Diduga Masih Salah Sasaran

35 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

SULTRALINE.ID, KENDARI – Penyaluran Elpiji Tiga Kilogram Bersubsidi di Sulawesi Tenggara mengalami over kuota sebesar 5 persen untuk catatan realisasi penyaluran tahun 2017.

Over kuota ini diduga akibat masih belum tepat sasaranya penyaluran gas bersubsidi ini di masyarakat. Seharusnya, elpiji bersubsidi dijual bagi masyarakat ekonomi lemah. Namun terkadang, masyarakat mampu atau bahkan industri pun malah menggunakannya.

Dari data Pertamina Marketing Oprasionalkan Regional (MOR) VII, realisasi penyaluran gas elpiji ke Sultra 2017 sebanyak 11.188 Metrik Ton. Jumlah ini meningkat 15 persen dibandingkan angka realisasi 2016 sebanyak 9.720 Metrik Ton.

Manager Komunikasi dan CSR Pertamina MOR VII, Roby Hervindo mengungkapkan, pihaknya mengakui menemukan fakta penjualan tabung Gas Elpiji yang salah sasaran, dan bahkan dijual dengan harga lebih tinggi dari harga resmi.

“Kami bahkan menemukan, ada yang dijual hingga 50 ribu tiap tabungnya, inikan sudah sangat jauh sekali dari harga resmi pemerintahan,” ungkapnya.

Untuk pengawasannya sendiri, kata Roby, Pertamina sebenarnya telah mengawasi dengan ketat namun itu hanya berlaku dalam distribusi Pertamina ke Agen resmi.

“Kalo dari Pertamina ke Agen resmi, kita awasi ketat, mereka tidak bisa main-main, tapi dari jika sudah sampai di pengecer, nah di sini masalahnya, karena sudah bukan ranah pengawasan kami,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, bahkan untuk di Pertamina sendiri menjamin ketersediaan tabung gas untuk masyarakat. Namun, terkadang penyaluran di pengecer karena tidak tepat sasaran akhirnya menjadi langka.

“Untuk pengawasan ditingkat pengecer itu ada di Disperindag atau Pemerintah setempat,” jelasnya.

Untuk di Sultra, lanjutnya, seharusnya tidak over kuota. Sebab, dari data BPS yang menjadi acuan penyaluran Elpiji bersubsidi ini, data warga miskin hanya 5 persen.

“Lantas kenapa bisa over kuota, bisa jadi karena penyalurannya belum tepat sasaran di masyarakat sehingga, harus dilakukan penambahan kuota agar warga khususnya yang ekonomi lemah mendapatkan gas elpiji bersubsidi,” pungkasnya.

 

Laporan: Taufik Quraiz Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *