Ming. Nov 28th, 2021

Opini : Apakah Jejak Rekam Eksistensi dan Konsep regionalism Indonesia dalam ASEAN Pantas Melengserkan Opini Indonesia sebagai Negara Pasif?

1 min read
img-20211125-wa0014

Nama : Devi Abiyah Oktavania Kaimoeddin

NIM : 20323295

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) Tahun 2020


Jawaban yang tepat mengapa Indonesia tidak bisa di bilang pasif yaitu mulai dilihat dari jejak rekam peran Indonesia dalam ASEAN terbilang aktif karena pertama dimana Indonesia pencetus/penggagas lahirnya ASEAN yang saat itu di wakili Menteri Luar Negeri Adam Malik, kedua Indonesia juga meluncurkan gagasan keamanan dalam membentuk organisasi ASEAN, ketiga Indonesia menjadi penengah di konflik dan perang kala konflik dan perang sipil di Kamboja, keempat Indonesia bekerja sama dengan negara tetangga yaitu Singapura, Malaysia, Brunei dalam memproduksi makanan/pangan dan daging halal untuk perdagangan antar negara biar makin eratnya juga hubungan internasional, dan yang kelima banyaknya karya dan budaya serta adat yang dipertunjukkan untuk memperkaya serta mengenalkan salah satu jati diri Kawasan dari Asia Tenggara untuk di perlihatkan secara global (Putri Yasmin, 2020, Juli 22).

Kemudian apa bila kita melihat juga peran Indonesia dalam mendominasi organisasi ASEAN dalam segi pengelompokkan regional Asia Tenggara itu sendiri diidentifikasi dari basis kedekatan tata kawasan, geografis, budaya, perdagangan, sudah pasti akan saling ketergantungan dalam hal kebijakan ekonomi maupun politik yang saling menguntungkan, komunikasi serta keikutsertaan dalam organisasi ASEAN ini menjadi pengetahuan yang baru sebab kawasan Asia Tenggara bisa dianggap berbeda dari kawasan lainnya, yang dimana setiap negara di dalamnya memiliki sumber daya alam utama yang berbeda bidangnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing maka perlunya terjadi kerja sama bagian seperti ekspor dan impor. Sehingga tidak heran bila terjadi interaksi pertukaran dan saling mengambil peran dengan tujuan memenuhi kebutuhan negara di Kawasan Asia Tenggara, dengan interaksi tersebut maka pihak negara yang terkait akan berbuah keuntungan, misalnya jika Indonesia kekurangan beras, maka dapat melakukan impor dari negara lain seperti Vietnam. Sementara Indonesia dapat mengekspor sumber daya seperti minyak bumi ke Vietnam. Dari contoh interaksi tersebut bukankah benar? Apabila anggapan negara Indonesia negara pasif dalam ASEAN itu salah sebab adanya ketergantungan antara satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan negara masing-masing.

Di tambah dengan pandangan saya mengenai bahwa Indonesia tidak layak/pantas di sebut pasif, ketika terjadinya kudeta militer Myanmar Indonesia ternyata tengah mencari dukungan negara ASEAN lain agar bisa mendorong Myanmar menggelar pemilihan umum baru yang paparkan oleh Reuters adanya dokumen diplomatik tersebut, langkah ini Indonesia di nilai turut mengupayakan penyelesaian problem Krisis Myanmar dengan pelan dan terlihat menjaga perasaan atau sopan. Jadi kesimpulan menurut saya Indonesia sangat mampu memberantas anggapan kalau Indonesia negara anggota yang pasif karena lebih memilih untuk pelan-pelan dalam bertindak agar nantinya berbuah kontribusi yang bersifat positif untuk pihak manapun. Terlebih dimana Indonesia menjadi sorotan saat berlangsungnya kudeta Myanmar di saat itu Indonesia justru cenderung menjadi pelopor dalam menggerakkan negara ASEAN lainnya untuk menanggapi dari apa yang terjadi di situasi Myanmar sebab hadirnya Indonesia saat itu punya sikap dan adab dibandingkan negara ASEAN lainnya. Baru-baru ini, Malaysia dan Brunei baru ikut-ikutan menanggapi situasi di Myanmar. Indonesia bahkan segera menghubungi Brunei yang saat ini menjadi Ketua ASEAN tak lama setelah kudeta berlangsung (Rezasyah, 2021, Februari 24).

€sl Promotion

€sl Promotion