Sab. Des 7th, 2019

Merdeka dari Pengangguran

1 min read
(Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE Merupakan Statistisi Pertama BPS Kota Kendari)

(Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE Merupakan Statistisi Pertama BPS Kota Kendari)

OPINI – Tanggal 17 Agustus, merupakan tanggal istimewa bagi Indonesia. Karena ditanggal tersebut, Presiden Soekarno, memploklamirkan kemerdekaan Indonesia. Dari sabang sampai Merauke, semua rakyat menyambut berita ini dengan gembira. Perjuangan mereka melawan penjajah terbayar sudah. Rasa tertekan berganti dengan harapan, Siapa yang tak suka merdeka, bebas dari penjajah, bebas mengemukakan pendapat dan bebas melakukan apa yang kita mau, tanpa takut diintimidasi maupun dihukum.

 

 
Proklamasi Kemerdekaan dan kata merdeka berhasil digemakan dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada ketakutan akan peluru yang dulu siap menembus tubuh mereka sewaktu Pahlawan dan pejuang kemerdekaan meneriakan kata merdeka! Yang ada hanyalah luapan rasa syukur atas bebasnya negeri ini dari belenggu penjajahan yang berlangsung selama 350 tahun lamanya. Dan kini, Indonesia telah memasuki Dirgahayu ke-74. Bila ditilik dari usia orang dewasa, 74 tahun merupakan usia matang, sudah memiliki banyak makan asam garam kehidupan dan pemikirannyapun bijaksana. Namun, Indonesia bukanlah usia orang dewasa.

 

 

Indonesia adalah negeri cantik, bak dongeng. Dengan dayang-dayang ganteng dan cantik,yang saling berebut untuk menggemukkan diri mereka sendiri. Tanpa pernah memikirkan nasib rakyatnya. Lantas apakah Indonesia, negeri yang kita banggakan ini sudah sepenuhnya merdeka, Nyatanya apa yang dikatakan Sang Presiden Pertama Indonesia itu memanglah benar, melawan bangsa sendiri itu tidak mudah. Sampai pada titik ini perjuangan negeri ini untuk merdeka memang masih terus berlanjut.

 

 
Bangsa Indonesia tengah berusaha memerdekakan diri dari belenggu permasalahan bangsa ini sendiri. Permasalahan yang dari dulu sampai sekarang belum merdeka dari Indonesia diantaranya masalah kemiskinan dan pengangguran. Dari data Badan pusat Statistik (BPS) tercatat Jumlah Angkatan Kerja Februari 2019 sebanyak 136,18 juta orang, naik 2,24 juta orang dibanding Februari 2018.

 

 

 

Komponen pembentuk angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan pengangguran. Pada Februari 2019, sebanyak 129,36 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 6,82 juta orang menganggur. Dibanding setahun yang lalu, jumlah penduduk bekerja bertambah 2,29 juta orang, sedangkan pengangguran berkurang 50 ribu orang. Hal ini mengindikasikan adanya pertambahan penduduk usia kerja yang belum dapat terserap oleh pasar kerja selama setahun terakhir. Angka tersebut menunjukan bahwa tingginya tingkat pengangguran yang ada.

 

 

 
Salah satu janji yang ditunggu-tunggu ialah langkah Jokowi-Amin maupun Prabowo-Sandi mengatasi pengangguran. Yang mencuat akhir-akhir ini ialah rencana paslon nomor urut 01 Jokowi-Amin memberikan kartu prakerja. Kartu itu, menurut Jokowi, guna meningkatkan kualitas SDM Indonesia.

 

 

 

Proklamasi kemerdekaan pada hakikatnya adalah sebuah declaration of independence yang belum berarti tercapainya kondisi kemerdekaan atau kebebasan, yaitu kebebasan dari ketakutan dan kemiskinan (dalam arti negatif) serta kebebasan berekspresi dan berserikat (dalam bentuk positif). Namun, kemerdekaan itu punya arti penting karena merupakan, sebagaimana kata Bung Karno, ”jembatan emas”: kesempatan menuju masyarakat adil dan makmur. Secara implisit terkandung makna bahwa masyarakat adil dan makmur adalah sebuah kemerdekaan ekonomi yang dapat dicapai melalui pembangunan.

 

 

 
Berbicara masalah kemerdekaan, kerap kita jumpai kalimat-kalimat yang naif yang dituliskan dan diucapkan dengan lisan yang tidak merasa berdosa mengatakan bahwa negeri ini belum merdeka. Apa yang terpikir oleh orang-orang seperti ini, apakah mereka tidak pernah belajar menghargai sejarah Indonesia? ataukah setumpuk kekecewaan yang ada dibenaknya?. Apapun itu, kalimat tersebut tentunya sangat menyakiti hati para pahlawan kita yang telah berjuang dengan jiwa dan rasanya untuk kebebasan yang kita peroleh saat ini.

 

 

 

Sudah selayaknya kita bercermin dan melihat arti dan makna kebebasan yang kita peroleh saat ini, anak-anak masih bisa bersekolah tanpa ada ancaman, orang tua masih bisa bekerja tanpa intervensi dan paksaan. Berbeda halnya dengan saudar-saudara kita yang ada di jalur Gaza, mereka sangat merindukan hal-hal yang sudah kita peroleh saat ini.

 

 

 

Di tengah suasana perayaan kemerdekaan nanti,  bangsa ini tentu layak bertanya : Apa sebetulnya arti kemerdekaan yang hakiki itu, Betulkah kita telah benar merdeka, Betulkah kita telah terbebas dari segala bentuk penjajahan.

 

 

 
Kita ketahui dari arti Penjajahan (imperialisme) pada hakikatnya adalah politik suatu bangsa/negara untuk menguasai bangsa/negara lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Hakikat penjajahan sama dengan perbudakan. Sama-sama merupakan ekpsloitasi satu pihak atas pihak lain secara zalim. Terlihat penjajahan gaya lama dilakukan dengan menggunakan kekuatan militer. Mengambil-alih dan menduduki satu wilayah serta membentuk pemerintahan kolonial di wilayah jajahan.

 

 

 

Cara ini secara umum sudah lama ditinggalkan. Bahwasanya, penjajahan secara militer ini mudah membangkitkan perlawanan dari penduduk negeri yang dijajah. Jelas, karena mereka secara nyata merasakan langsung penindasan dan pengeksploitasian atas diri mereka, negeri mereka dan sumberdaya mereka.
Namun dari itu kaum penjajah kemudian menempuh gaya penjajahan baru.

 

 

 
Penjajahan ini tak mudah dirasakan oleh pihak terjajah. Penjajahan ini mewujud dalam bentuk kontrol atas ekonomi, politik, pemikiran, budaya, hukum dan HAM negeri yang dijajah. Tujuannya tetap sama mengambil kekayaan negeri terjajah demi kesejahteraan dan kemakmuran kaum penjajah. Penjajahan gaya baru sama berbahayanya dengan penjajahan gaya lama. Bahkan boleh jadi lebih berbahaya. Sebabnya, dengan penjajahan gaya baru, pihak terjajah sering tak merasa sedang dijajah. Contohnya adalah bangsa ini.

 

 

 

Bangsa ini setiap tahun tetap antusias merayakan hari kemerdekaannya. Namun demikian, pada saat yang sama bangsa ini seolah tak pernah menyadari bahwa kekayaan bangsa kita terus dikuasai dan dieksploitasi bahkan dengan sangat liar oleh bangsa lain lewat perusahaan-perusahaan mereka. Alhasil, bangsa dan negeri ini sebetulnya belum benar-benar merdeka secara hakiki. Belum benar-benar terbebas dari penjajahan. Secara fisik kita memang merdeka. Namun demikian secara pemikiran, ekonomi, politik, budaya, dll sejatinya kita masih terjajah.

 

 

 
Kemerdekaan hakiki terwujud saat Bangsa ini terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama bangsa. Dengan kata lain menghendaki agar Bangsa ini benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh bangsa lainnya. Upaya dari pemerintah tersebut secara sepintas hendak menampilkan atau mewujudkan ambisi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tidak ada pengangguran.

 

 

 

Paling tidak pemerintah memiliki tekad untuk menjamin nasib warganya yang masih belum dapat mencukupi kebutuhan dasar hidupnya, kondisi yang disebabkan belum tersedianya pekerjaan yang layak.

 

 

 

Model negara seperti ini dalam kacamata barat disebut dengan welfare state, di mana negara tidak sekadar menjadi penjaga malam (nachtwaker staat) namun juga menjamin tegaknya ketertiban di dalam negeri dan pertahanan serta keamanan. Mari kita bangkitkan kembali semangat 17 Agustus 1945 pejuang kita yang  pada tujuan awal bangsa yang benar benar merdeka dari segala penjajahan dan semangat kesatuan bangsa pada kontestasi politik indonesia ini yang sedang memanas jangan sampai kita di pecah belah kan dan di adu dombakan oleh bangsa lain kita harus terus memperkuat persatuan Bangsa Indonesia.

 


Oleh : Asrul Ashar Alimuddin, SE (Statistisi Pertama BPS Kota Kendari)

1 thought on “Merdeka dari Pengangguran

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *