Menipisnya Rasa Aman dalam Sistem Kapitalis

Tahun 2016 masyarakat digemparkan dengan adanya kasus pembunuhan sadis yang terjadi disejumlah daerah di Indonesia, baik kasus yang berkaitan dengan pemerkosaan, asmara dan perampokan yang berujung pada pembunuhan. Di Padang, siswa SMP yang diperkosa sampai meninggal. Tangerang Banten, salah seorang perempuan yang ditusuk kemaluannya dengan menggunakan cangkul sampai pada paru-paru, di Sumatera Barat salah seorang mahasiswa menggorol dosennya sendiri, di  Makassar ada ayah yang membunuh anak kandungnya dengan mengeluarkan organ otaknya dari kepala. Berbagai macam pembunuhan secara sadis yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan hal ini terjadi beberapa daerah di Indonesia.

Kemudian muncul lagi kasus, rumah yang  besar, dengan tembok pagar yang menjulang tinggi bukan faktor yang menjadikan rumah menjadi aman seketika, karena di era kapitali sekarang berbagai macam cara masyakat melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya. Baik kebutuhan akan harta maupun kebutuhan secara psikologis. Sebut saja perampokan sadis yang terjadi di Pulomas Utara, Jakarta timur kemarin lalu. Adanya penyekapan terhadap pemilik rumah yang tinggal berasama pemilik rumah, dan pembuhan yang terjadi. Memakan 6 korban yang tewas (liputan6.com, 29 Des 2016) .

Kejadian ini mengusik rasa aman masyarakat, baik yang berada di sekitar lingkungan rumah korban maupun bagi penonton dirumah. Hal ini menandakan bahwa masyarakat dapat melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhannya. Baik berupa perbuatan halal dan haram, sehingga dapat menghilangkan rasa kemanusiaan.

Solusi yang ditawarkan diantaranya yaitu dengan CCTV, call center 112 ataupun meningkatkan interaksi antar warga dan saling menjaga antara warga. Namun jika kita melihat lebih dalam maraknya kriminalitas terjadi karena sistem ekonomi kapitalis dan tidak berpihak pada rakyat namun pada pengusaha. Makin mahalnya harga dengan tingkat pendapatan yang sama, sehingga masyarakat harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ringannya sanksi atas perilaku criminal dan yang menghawatirkan adalah berkeliarannya para pelaku kejahatan dan merencanakan kejahatan.

Rasa kemanusia merupakan bagian penting dalam diri manusia. Saling tolong menolong sesama umat manusia. Manusia secara umum mencintai kedamaian dan membenci kekerasan. Aspek ruhiyah yang mengurang sehingga mudahnya sebagian masyarakat untuk mengkonsumsi miras, narkoba dan semakin banyaknya tindakan kriminalitas yang dapat masyarakat tonton di media, sehingga dapat dikatakana bahwa berita buruk menjadi berita bagus di media, karena di pertontonkan secara berulang-ulang seperti sinetron yang memiliki beberapa episode dan jadwal tayang khusus. Dibutuhkan padanya pemahaman mengenai kesadaran diri seorang hamba atas keterikatannya terhadap sang Pencipta yaitu Allah swt.

Kemuliaan Hukum Pembunuhan dalam Islam

Pembunuhan yang terjadi tidak semua akan dijatuhi hukuman sanksi qishash.  Menurut Malikiyah klasifisikasi pembunuhan terbagi atas dua macam yaitu pembubuhan yang dilakukan dengan sengaja dan pembubuhan yang dilakukan tidak sengaja (An-Nissa: 92 dan 93). Menurut Shafi’I, hambali dan hanafi membaginyadalam tiga klasikasi yaitu pembunuhan ada yang disengaja, ada yang menyerupai kesengajaan dan ada yang tidak disengaja sama sekali. Berdasarkan lansiran dari kompas.com 28 Desember 2016, sejauh ini kepolisian masih menyimpulkan kasus tersebut adalah murni pembunuhan karena tidak disertai dengan perampokan.

Jika ditilik dari hukum Islam, maka kasus ini masuk dalam pembunuhan yang sengaja dan direncanakan. Adapun syarat2 pembunuhan dikasifikasikan sengaja yaitu pembunuh adalah orang yang berakal, baliq dan sengaja membunuh; yang terbunuh adalah manusia yang darahnya dilindungi dan alat yangdigunakan yaitu alat yang kebiasaannya dapat mematikan makhluk hidup, khususnya manusia. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh” Al Baqaroh 178.

Dalam istilah hukum Islam Qishash  adalah pelaku kejahatan dibalas seperti perbuatannya, apabila ia membunuh maka dibunuh dan bila ia memotong anggota tubuh maka anggota tubuhnya juga dipotong. Namun Jika yang membunuh mendapatkan maaf dari ahli waris yang terbunuh  maka pembunuh harus membayar diyat (ganti rugi) yang wajar. Diyat pembunuhan sengaja menurut imam Syafi’i adalah seratus ekor unta di bagi tiga yaitu: tiga puluh ekor unta hiqqah (unta yang memasuki tahun keempat), tiga puluh ekor unta jad’ah (unta yang memasuki tahun kelima), dan empat puluh ekor unta khalifah (unta yang sedang mengandung). Hal ini didasarkan atas hadits rasulullah saw yang diriwayatkan oleh umar bin syu’aib dari bapaknya, bahwa rasulullah saw bersabda: “Barang siapa membunuh dengan sengaja, maka diserahkna pada wali-wali terbunuh untuk memilih untuk membunuh kembali (qishash) atau diyat, yakni tiga puluh unta hiqqah,tiga puluh unta jada’ah, dan empat puluh unta khalifah, mana yang dianggap lebih maslahat baginya maka itu lebih baik baginya.”. Diyat yang wajar bukan sesuai dengan hukum buatan manusia, namun sesuai dengan hukum  syara’.

Bisa kita bayangkan bersama bagaimana seseorang harus mencari unta yang lagi bunting sedangkan harga unta sekitar 4.000 riyal atau setara sekitar Rp. 14.000.000,-. Jika unta dalam keadaan hamil maka harganya lebih mahal lagi. Jika menaksir dari harga unta yang tidak dalam keadaan hamil, maka pembunuh yang secara sengaja harus menyiapkan anggaran sebesar, 40 ekor unta sekitar lebih Rp.560.000.000. ditambah lagi dengan harga beberapa puluh ekor unta lagi.

Begitulah Islam memberikan pelajaran kapada para pembunuh yang secara sengaja merenggut nyawa manusia. Dan Memuliakan bagi para ahli waris jika mereka memilih untuk memaafkan orang yang telah membunuh keluarga mereka. Wallahu’alam.

Penulis :Fitriani, ST., M.Si (Tenaga Pengajar)

imaginfytry@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.