Melirik Kandidat Cagub dan Cawagub Sultra Diluar Kaca

SULTRALINE.ID, KENDARI – Ketiga paslon (pasangan calon) gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) yang telah melangsungkan debat kandidat pertama, sejatinya bukan satu satunya tolak ukur untuk menyimpulkan kemampuan figur. Demi objektifitas, saya menyimpulkan bahwa lagi – lagi masyarakat sultra khususnya simpatisan belum benar – benar dewasa memaknai politik itu sendiri. Bukan hal yang keliru ketika mengembangkan sebuah wacana, namun wacana sejatinya harus memiliki dasar yang rasional dan esensial, serta tidak mendiskreditkan kandidat lainnya. Sebab, semua kandidat ini memiliki latar belakang yang hampir semua sama, semua mantan pimpinan kepala daerah.

Debat semalam hanyalah bagian paling terkecil untuk mengukur kapabilitas paslon, jika ingin objektif, Hugua tentu menduduki peringkat teratas kesuksesan dan kemampuan berorganisasi. Buktinya sederhana, beliau mampu mengubah sudutpandang Daerah, Nasional maupun Dunia tentang Kabupaten Wakatobi yang pada dasarnya sangat minim sumber daya alam (SDA) dibanding daerah lain di Sultra. Soal impek ekonomi terhadap daerah, sudah barang pasti kalau wisatawan Lokal, Nasional dan Mancanegara tidak mengunjungi Wakatobi dengan tangan kosong.

Wakatobi memiliki semua fasilitas infrastruktur untuk mendukung sektor pasriwisata tersebut yang secara tidak langsung juga turut memberi percikan positif terhadap daerah sekitaranya misalnya Kota Bau – bau dan Kota Kendari sebagai daerah persinggahan. Keuntungan untuk Kota Bau – bau salah satu contoh kecilnya, bandara betoambari kini bisa menjadi salah satu bandara persinggahan. Kota yang memiliki tempat wisata budaya tentu serta merta cepat tersentuh wisatawan paska kunjungan dari Wakatobi. Perlu digaris bawahi, jika Hugua harus merogok anggaran pemda yang cukup banyak untuk menciptakan brand tersebut, tentu sangat sepadan dengan hasil yang kini diperoleh. Wakatobi akan dikenang dunia sampai ribuan tahun kedepan tanpa harus menjual kiri dan kanan lagi.

Aspek kematangan organisasi, kita bisa lihat dari biografi beliau dikala getol membangun sumberdaya masyarakat dengan bermodal LSM Sintesa. Ini bukan hal yang sederhana. Ia bisa menyentuh rakyat dengan pembangunan dikala itu tanpa embel – embel atribut jabatan atau menggunakan uang Negara. Hal ini yang sangat tidak dimiliki oleh kandidat lainnya, bahkan torehan prestasi dalam membangun daerah dengan menggunakan embel – embel atribut pemerintahan pun, tidak mampu melampaui tingkat keberhasilan Hugua.

Meski tidak bisa dinafikan juga semua kandidat punya pembangunan yang bisa dibuktikan secara kasat mata dikala memimpin daerah masing – masing. Apa yang saya perlu sampaikan, saya hanya berharap, agar para simpatisan melahirkan wacana yang lebih edukatif dan memberi kesadaran pada publik ketika menggunakan rasionya dalam menentukan pilihan. Jangan malah merangsang perpecahan dan permusuhan di tengah – tengah masyarakat. Jika kaum intelektual tidak berusaha menjadi patron dalam menciptakan demokrasi yang cerdas serta berkeadilan, tentu pembangunan Sultra hanya akan menjadi mimpi terus terusan.

Apa yang saya utarakan ini, bukan bagian dari reaksi dukungan saya terhadap Hugua atau sikap politik saya dalam pemilihan gubernur (Pilgub) ini, namun sedikit mengulas bahwa ada perbedaan antara janji dan menjual bukti. Ketika calon pemimpin berusaha menjual janji, ribuan alasan akan dihalalkan sampai pembohongan publikpun menjadi halal buat mereka, namun ketika bukti faktual yang di sebarkan, rakyat bisa diajak sadar dalam menentukan sikap politik, sehingga demokrasi bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas serta mumpuni menghadapi ribuan agenda pembangunan daerah.

Mukmin (Bram Barakatino)

Penulis adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Posko Perjuangan Rakyat (POSPERA) Kota Kendari 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.