€sl Promotion

€sl Promotion
19/01/2022

Maksimalkan Pengelolaan TPA, Wali Kota Kendari Kunker ke Jambi

2 min read

ADVERTORIAL – Tempat Pembuangan Akhir ( TPA) merupakan salah satu tempat yang digunakan untuk membuang sampah yang sudah menacapai tahap akhir dalampengelolaan sampah yang dimulai dari pertamakali sampah dihasilkan, dikumpulkan, diangkut , dikelola dan dibuang. TPA adalah tempat pengumpulan sampah yang merupakan lokasi yang harus terisolir secara baik sehingga tidak menyebabkan pengaruh negatif pada lingkungan sekitar TPA.

TPA merupakan salah satu sarana  dalam sistem pengelolalaan sampah yang sangat penting keberadaaanya. Sampah merupakan salah satu permasalahan yang seringkali dihadapi oleh masyarakat yang dalam kegiatan sehari-hari tidak lepas dari limbah rumah tangga,  industri besar maupun kecil. TPA yang sekarang beroprasi tidak dapat scara terus menerus  mampu menampung limbah atau sampah padat  khususnya dalam jangka panjang. Pengoprasionalan TPA memiliki batasan waktu untuk dilakukan pembaruan yang bisa disebabkan sudah tidak mampunya lagi TPA dalam menampung jumlah sampah yang terus bertambah.

Salah satu tantangan berat yang dihadapi oleh pengelola perkotaan adalah penanganan masalah persampahan (Hadiwijoto, 1983). Sampah sebagai hasil samping dari berbagai aktivitas atau kegiatan dalam kehidupan manusia sering menimbulkan permasalahan serius di wilayah-wilayah pemukiman penduduk dan banyak menimbulkan masalah kelingkungan yang kompleks (Dong, Liu, & Tang,2008). Seiring dengan kebutuhan penanganan dan pengelolaan sampah tersebut, maka muncul keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Namun peningkatan volume sampah yang tidak diikuti dengan sarana TPA yang memadai dan sesuai dengan kriteria-kriteria yang ada, akan dapat menimbulkan masalah lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Permasalahan tersebut muncul sebagai akibat dari ketersediaan lahan yang terbatas dan kondisi lingkungan yang tidak memenuhi kriteria Standar Nasional Indonesia tentang pemilihan lokasi TPA. Akibat dari persoalan utama tersebut muncul masalah pencemaran lingkungan berupa bau, resapan lindih dan bencana longsor yang terjadi.

Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sementara yang lain lebih lambat sampai puluhan dan ratusan tahun seperti plastik. Hal ini memberi gambaran bahwa di TPA masih terdapat proses-proses yang menghasilkan beberapa zat yang dapat mempengaruhi lingkungan.

Terdapat syarat-syarat lokasi TPA yaitu: Bukan daerah rawan geologi (daerah patahan, rawan longsor, rawan gempa, dll). Bukan daerah rawan geologis yaitu daerah dengan kondisi kedalaman air tanah kurang dari 3 meter, jenis tanah mudah meresapkan air, dekat dengan sumber air, dll. Bukan daerah rawan topografis (kemiringan lahan >20%). Bukan daerah rawan terhadap kegiatan seperti bandara, pusat perdagangan. Bukan daerah/kawasan yang dilindungi.

Jenis dan fungsi fasilitas TPA terdiri dari: Prasarana jalan yang terdiri dari jalan masuk/akses, jalan penghubung, dan jalan operasi/kerja. Semakin baik kondisi jalan ke TPA akan semakin lancar kegiatan pengangkutan sehingga efisiensi keduanya makin tinggi. Prasarana drainase, berfungsi untuk mengendalikan aliran limpasan air hujan dengan tujuan untuk memperkecil aliran yang masuk ke timbunan sampah. Drainase ini umumnya dibangun di sekelilinmg blok atau zona penimbunan. Fasilitas penerimaan, yaitu tempat pemeriksaan sampah yang datang, pencatatan data, dan pengaturan kedatangan truk sampah. Biasanya berupa pos pengendali di pintu masuk TPA. Lapisan kedap air, berfungsi mencegah rembesan air lindi yang terbentuk di dasar TPA ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Biasanya lapisan tanah lempung setebal 50 cm atau lapisan sintesis lainnya. Fasilitas pengamanan gas, yaitu pengendalian gas agar tidak lepas ke atmosfer. Gas yang dimaksud berupa karbon dioksida atau gas metan. Fasilitas pengamanan lindi, berupa perpipaan lubang-lubang, saluran pengumpul, dan pengaturan kemiringan dasar TPA sehingga lindi begitu mencapai dasar TPA akan bergerak sesuai kemiringan yang ada mengarah pada titik pengumpul. Alat berat, berupa bulldozer, excavator, dan loader. Penghijauan, dimaksudkan untuk peningkatan estetika, sebagai buffer zone untuk pencegahan bau dan lalat. Fasilitas penunjang, seperti pemadam kebakaran, mesin pengasap (mist blower), kesehatan/keselamatan kerja, toilet, dan lain-lain.

Walikota kendari H. Sulkarnain kadir SE,ME melakukan kunjungan kerja di tempat pembuangan akhir (TPA) di jambi yang merupakan salah satu TPA percontohan  di Indonesia, kamis  (28/10/2022).

Menurut sulkarnain, pengelolaan sampah di TPA  Jambi sangat baik karena bekerja sama dengan negara jerman. Ia pun berjanji akan meningkatkan dan memaksimalkan pengelolaan TPA di kendari.

“Insya Allah kota kendari akan mengikuti jejak pemkot jambi, ” ujarnya walikota kendari, Sulkarnain Kadir, saat menyembangi TPA.

whatsapp-image-2021-10-28-at-20-02-40-1

whatsapp-image-2021-10-28-at-20-02-40

whatsapp-image-2021-10-28-at-20-02-39

whatsapp-image-2021-10-28-at-18-56-34

Pada kesempatan itu, sulkarnain juga berkesempatan mencoba komptecth, alat pencacah sampah yang sangat efektif untuk mengurangi produksi sampah.

Selama ini Pemkot Kendari terus melakukan edukasi terkait pengelolaan sampah dengan mengandeng Lembaga Jars Foundation melakukan sosialisasi pengelolaan sampah yang baik di Kecamatan Poasia, Kamis (8/4/2021).

Program pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini, menargetkan semua kecamatan di Kota Kendari faham terlebih dahulu akan program yang berlangsung.

“Tidak berhenti sampai pada tahap sosialisasi saja, Setelah itu kita akan melakukan Edukasi secara langsung kemasyarakat dibantu Camat dan Lurah terkait bagaimana cara pengelolaan sampah Organik dan Anorganik ini,” kata Divisi Program Jars Foundation, Titik.

Lanjut Titik mengatakan, ada tiga kegiatan yang akan dilaksanakan Jars Foundation terkait program berbasis masyarakat ini, yakni sosialisasi, pelatihan, pendampingan dan monitoring evaluasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari Nismawati mengatakan, sampah merupakan persoalan yang perlu menjadi perhatian semua pihak.

Menurutnya, tanpa perhatian dan kesadaran semua pihak persoalan sampah ini tidak akan bisa terselesaikan.

“Ini menjadi perhatian kita semua, bukan hanya pemerintah saja. sebab untuk menciptakan lingkungan yang bersih perlu adanya perhatian semua pihak,” katanya.

“Kalau hanya pemerintah saja yang perhatian sedang masyarakatnya tidak, tentu untuk mencapai lingkungan yang bersih dan sehat tidak akan bisa tercapai,” tegasnya.

Sementara Camat Poasia Yahya mengatakan, program ini merupakan arahan Wali Kota Kendari untuk mewujudkan kota layak huni di Kendari.

“Saya sangat bersyukur dengan adanya program ini, semoga dengan pendampingan yang telah dilakukan Jars Foundation bisa membangkitkan kesadaran serta semangat masyarakat untuk bersama menjaga kebersihan serta mengelola sampah ini dengan baik dan bijak,” harapnya.

Selain Jars Foundation, dalam kegiatan tersebut Hadir Komunitas LINKERS yang juga aktif mengedukasi masyarakat terkait kebersihan lingkungan terkhusus pada pengelolaan minyak jelantah.

Kegiatan yang berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan ini, juga turut dihadiri Danramil, Kapolsek Poasia, Serta RT, RW se Kecamatan Poasia.

Sebelumnya hal yang sama telah dilaksanakan di Kelurahan Sodohoa Kecamatan Kendari Barat dan menjadi pilot project pada Kelurahan Lahundape di Kecamatan Kendari Barat.

Tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan masyarakat juga ikut berperan melakukan sosialisasi penanganan sampah.

Ketua TP-PKK Kota Kendari Hj. Sri Lestari Sulkarnian S.Pd., M.Si membuka kegiatan Sosialisasi Program Pengelolaan Sampah Berbasis masyarakat di Kantor TP-PKK Kota, Kelurahan Pondambea, Kecamatan Kadia, Senin (12/04/21).

Mengawali sambutanya, Sri lestari Sulkarnain mengimbau seluruh pengurus PKK se Kota Kendari untuk bersama menekan penyebaran Covid-19, terus menjaga diri dan menerapkan protokol kesehatan .

“Memasuki Puasa Ramadan tidak bosan- bosanya saya menghimbau kepada seluruh pengurus PKK se Kota Kendari untuk menjaga diri, menjaga kesehatan serta menerapkan protokol kesehatan kapan dan dimanapun kita berada,” tuturnya.

Semantara Kadis Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari Nismawati mengatakan, sampah merupakan persoalan yang mengglobal dan perlu menjadi perhatian semua pihak.

Menurutnya, tanpa perhatian dan kesadaran semua pihak persolan sampah ini tidak akan bisa terselesaikan.

“Ini menjadi perhatian kita semua, bukan hanya pemerintah saja, sebab untuk menciptakan lingkungan yang bersih perlu adanya perhatian semua pihak,” katanya.

“Kalau hanya pemerintah saja yang perhatian sedang masyarakatnya tidak, tentu untuk mencapai lingkungan kebersihan dan sehat tidak akan bisa tercapai,” tegasnya.

Sedangkan Tim Fivisi Jars Foundation Titik mengatakan, sosialisasi program pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini, menargetkan semua kecamatan di Kota Kendari faham terlebih dahulu akan program yang berlangsung.

“Tidak berhenti sampai pada tahap sosialisasi saja, setelah itu kita akan melakukan edukasi secara langsung ke masyarakat dibantu camat dan lurah, terkait bagaimana cara pengelolaan sampah organik dan anorganik ini,” katanya.

Lanjut Titik mengatakan, program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilaksanakan Jars Foundation, merupakan implementasi kegiatan perjanjian kerjasama dengan Pemerintah Kota Kendari dalam mengurangi sampah dari sumbernya dengan menitikberatkan peran serta masyarakat dalam kelangsunganya.

“Target program ini bagaimana sampah yang terbuang ke TPA berkurang sesuai dengan kebijakan dan strategi daerah yang dicanangkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu pengurangan volume sampah 30% di tahun 2025,” terangnya.

Untuk diketahui ada Empat Pilar dalam progaram Pengelolaan sampah berbasis masyarakat ini :

1.) Pemilahan Sampah : Suatu proses kegiatan penanganan sampah sejak dari sumbernya dengan memanfaatkan penggunaan sumber daya secara efektif yang diwali dari pewadahan sampah sesuai dengan jenisnya.

Yang paling mudah adalah bagaimana memisahkan sampah basah dan sampah kering.

Dari seluruh yang paling utama dalam program ini adalah bagaimana masyarakat mau memilah sampah.

2.) Pengelolaan Sampah: Pengelolaan sampah yang akan dilakukan di rumah tangga adalah pengelolaan sampah organik.

Kegiatan ini akan dilakukan dengan kurikulum ruang kehidupan untuk ibu rumah tangga atau kader PKK yang akan diberikan pelatihan pengelolaan sampah.

Hal ini diharapkan sampah organik sudah tidak diangkut ke TPA sehingga volume sampah akan berkurang.

3.) Pengangkutan Sampah: Saat ini di Kota Kendari masyarakat membuang sampah sendiri ke tempat pembuangan sampah sementara.

Program ini mengoptimalkan pembuangan sampah dengan menjemput sampah ke rumah tangga.

Masyarakat bisa berdiskusi berapa iuran untuk membayar jasa petugas yang akan mengangkut sampah. Dalam hal ini retribusi sampah yang ditarik oleh Pemerintah Kota Kendari akan dihilangkan.

4.) Tabung Sampah: Tabung sampah adalah program peningkatan ekonomi masyarakat yang ingin terlibat nyata dalam pengelolaan sampah. Program pengelolaan sampah berbasis masyarakat menargetkan pembangunan bank sampah minimal satu bank sampah satu kecamatan dengan proporsional yang ideal.