Jum. Apr 3rd, 2020

Kronologi Pembubaran Aksi di Kantor DPRD Sultra Menurut Mahasiswa

1 min read
img_20200323_201949

SULTRALINE.ID, KENDARI – Saat ini keadaan di Indonesia masih dalam tahap siaga dalam berhadapan dengan virus corona atau Covid-19. Selain maraknya isu tentang Covid-19, berbagai bencana juga mengancam keselamatan rakyat Indonesia dalam bentuk regulasi yaitu Omnibus Law atau RUU yang akan menghadirkan kapitalisme.

 

Ditengah situasi genting ini belasan mahasiswa yang tergabung dalam aksi hari senin 23 maret 2020 dengan nama Aliansi Rakyat Sultra Menggugat kini ditahan di markas besar kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra). Dimana ada belasan mahasiswa itu melakukan aksi dengan membawa tuntutan agar di batalkannya segala Rancangan Undang-Undang yang hanya memihak pada kepentingan kapital. Tak lupa juga dengan kasus penembakan dua mahasiswa UHO yusuf dan randi dibawa sebagai tuntutan dalam aksi tersebut.

 

Sebelumnya, pihak pemerintah telah menghimbau kepada seluruh instrument pemerintah dan seluruh warga negara termasuk elemen mahasiswa agar Bersama-sama dalam menangani agar Covid-19 tidak mewabah dengan cara menghindari kegiatan yang membuat berkumpulnya massa yang banyak. Namun dalam hal ini pihak mahasiswa yang melakukan aksi di kantor DPRD Sultra bukan bermaksud untuk mengambil langkah egois atau tidak mengindahkan himbauan dari pemerintah terkait waspada Covid-19, tetapi pihak mahasiswa hanya ingin menyuarakan penolakan terhadap Omnibus Law agar segera dibatalkan dan pelaku penembak yusuf dan randi segera ditindak.

 

Dalam aksi Aliansi Rakyat Sultra Menggugat juga terlihat massa aksi dengan jumlah yang tidak banyak. Hal ini dikarenakan mengingat bahaya penyebaran Covid-19 jika dalam jumlah massa yang banyak.

 
Menurut salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya, sekitar pukul 10.00 pagi mahasiswa berkumpul di depan Gedung Fakultas Teknik UHO untuk memulai jalan menuju kantor DPRD sultra. Setibanya di kantor DPRD salah satu perwakilan mahasiswa sempat melakukan orasi selama kurang lebih 4 menit, lalu terjadi komunikasi antara massa aksi dan pihak kepolisian yang melakukan pengamanan, hasilnya mahasiswa disetujui untuk sekedar menempelkan spanduk tuntutannya di depan gedung DPRD dan setelah itu pengunjuk rasa akan membubarkan diri.

 
“Namun masih dalam posisi menunggu untuk pemasangan spanduk tuntutan, menurut keterangan dari saksi mata berinisial L seorang polisi bertanya kepada massa aksi, “bikin apa ini”, lalu dijawab oleh salah satu massa aksi ”ini pak, hanya mau pasang baliho pak” lalu polisi itu kemudian menjawab lagi “tidak ada, bubar, bubar” ditambahkan lagi polisi lainnya, ”tangkap, tangkap saja, borgol mereka”. Kemudian sekitar beberapa menit pihak kepolisian yang datang Bersama mobilnya ditambah belasan polisi yang berpakaian preman yang telah berada dilokasi sejak pagi melakukan pembubaran paksa dan pengkapan terhadap pengunjuk rasa,” tuturnya.

 
Diketahui bahwa aksi itu dilakukan hanya untuk menyampaikan aspirasi dengan tetap bertindak waspada terhadap covid19. Namun pihak kepolisian tiba-tiba tanpa memberikan komando peringatan terhadap massa pengunjuk rasa dengan cepat langsung menyeret kedalam mobil polisi. Yang seharusnya hal itu tidak dilakukan jika dasar tindakan kepolisian adalah tindakan yang tunduk terhadap penyebaran covid19. Baiknya kepolisian menginstruksikan secara baik soal waspada covid19 atau memberikan perlindungan terhadap massa pengunjuk rasa seperti misalnya membagikan alat pelindung diri ataupun yang lainya.

 

“Pengunjuk rasa yang menuntut dibatalkannya RUU omnibus law itu berjumlah sekitar 16 orang, 12 ditahan dan 4 berhasil menghindar dari penangkapan. Bahwa dalam aksi, ada tuntutan agar pemerintah tidak lamban dalam memgeluarkan kebijakan untuk penanganan covid 19,” tegasnya.

 
“Realitas yang terjadi sekarang, masyarakat banyak yang berkeluh kesah terkait persediaan alat kesehatan (masker dan handsanitaizer) bahakan harga masker dan alkohol pun melonjak. Belum lagi alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis di sultra sangat terbatas,” pungkasnya.

 

Untuk diketahui belasan mahasiswa tersebut masih ditahan di Mapolda Sultra.

 

Hingga berita ditayangkan awak media ini mencoba mengkonfirmasi langsung kepada pihak terkait namun belum juga mendapatkan keterangan lebih jauh.

 
Laporan : TIM

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *