Isu Investor Asing Kelola Pulau Labengki, Ini Tanggapan Dinas Pariwisata

47 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

SULTRALINE.ID, KENDARI – Isu seputar pengelolaan objek Wisata Pulau Lebengki oleh investor asing sempat merebak medio 2016 silam. Ramai dibahas publik saat itu, ada sinyalemen pengelolaan kawasan Pulau Labengki oleh investor asal Tiongkok yang difasilitasi instansi pemerintah.

Terkait itu ini, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sultra, Syahrudin Nurdin menjelaskan bahwa hal tersebut tidak benar. Menurutnya, pengelolaan pulau wisata yang sering disebut ‘Mini Raja Ampat’ yang terletak di Kabupaten Konawe Utara ini, masih dalam pengawasan pemerintah.

“Bupati Konawe Utara telah menelfon untuk berkoordinasi, dan berencana untuk melakukan pembicaraan-pembicaraan soal Labengki,” kata Syahrudin Nurdin.

Dijelaskanya juga, area wisata tersebut berada dalam kawasan konservasi yang dikelola Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra. Olehnya itu, pihaknya berencana untuk berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk pembangunan kawasan wisata Pulau Labengki.

Kedepan, kata Syahrudin Nurdin, objek wisata yang ada di Sultra akan didorong untuk terkoneksi satu sama lain. Untuk memudahkan wisatawan memilih objek wisata yang akan didatanginya.

“Dengan konektifitas ini maka wisatawan tidak akan bingung jika berwisata di Sultra, karena dia bisa memilih beberapa objek wisata untuk didatangi. misal hari pertama di Wakatobi, selanjutnya Bokori, kemudian Labengki,” jelas Syahrudin.

Untuk mendukung pengelolan Pulau Lebengki, pihaknya juga berencana melakukan pertemuan dengan sejumlah pengelola yang terkait kawasan wisata, seperti hotel dan restoran.

Untuk informasi, Pulau Labengki terletak di Desa Labengki, Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara. Pulau ini terdiri dari beberapa gugusan pulau karang besar serta pulau karang kecil. Sehingga Pulau Labengki dibagi menjadi Pulau Labengki Besar dan Pulau Labengki Kecil.

Di pulau ini terdapat banyak titik penyelaman, sehingga kawasan ini pun menjadi favorit bagi para penyelam. Selain itu, di sini juga merupakan kawasan penagkaran Kima. dengan salah satu spesiesnya yakni Kimaboe, disebut sebagai Kima terbesar di dunia.

Laporan: Taufik Qurahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *