May 20, 2019
You can use WP menu builder to build menus

SULTRALINE.ID, KENDARI – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kota Kendari menggelar seminar kebangsaan yang bertajuk peran pemuda dan mahasiswa dalam menangkal dis-integrasi bangsa di tengah guncangan industri 4.0, sekaligus dilangsungkan dengan buka puasa bersama, pada Rabu (15/05/2019) bertempat di gedung Aula Pramuka Sultra.

 

Dalam kegiatan Seminar Kebangsaan itu dihadiri oleh pemateri dari Danrem 143/HO, Wadansat Brimob Polda Sultra, dan Ketua Alumni GMNI Kendari Irfan Ido SP., M.Si. Peserta yang hadir dalam kegiatan Seminar ini berjumlah ratusan (111 orang) berdasarkan registrasi peserta.

 

Turut hadir pula, peserta yang berasal dari berbagai elemen yaitu Pengurus DPK GMNI se-Kota Kendari, kelompok Cipayung Plus Kota Kendari, Pengurus Osis SMAN 2 Kendari, Pengurus Lembaga Mahasiswa se-Kota Kendari, dan senior-senior sebagai tamu undangan

 

Kegiatan tersebut adalah salah satu rangkaian kegiatan dari tiga bentuk kegiatan, yakni Seminar Kebangsaan, Diskusi, dan Kaderisasi Tingkat Dasar III.

 

Dalam menyampaikan materinya, Alumni GMNI Kendari, Bung Irfan Ido, menyampaikan bahwa pemuda dan mahasiswa harus menguatkan pemahamannya soal kebangsaan.

 

”Jiwa nasionalisme nya harus di kokohkan dan harus bersikap adaptif terhadap perkembangan kemajuan teknologi dan pandai-pandai memanfaatkan kemajuan teknologi, agar tak tertinggal dan tergerus oleh teknologi,” katanya.

 

Sementara dari Pemateri TNI-POLRI menyampaikan dan mengajak kepada semua peserta agar sama-sama tetap menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI.

 

GMNI Kendari berharap melalui kegiatan seminar ini, peserta mampu mendapatkan pencerahan kepada semuanya bahwa ditengah kepungan Industri 4.0 banyak celah negatif yang dapat melemahkan paham kebangsaan. Dimana perkembangan informasi melalui media tak terindahkan pesatnya.

 

“Dalam hal ini Berbagai informasi disajikan kepada khalayak umum melalui media sosial, Jika informasi itu tidak disaring sebaik mungkin maka akan berdampak pada gagalnya pemahaman kita kepada sesuatu itu. Artinya, melalui teknologi media sumber-sumber berita hoax, provokasi, ujaran kebencian dan hal negatif lainnya yang dapat memorak-porandakan jiwa nasionalisme kita sebagai pemuda bisa saja ditampilkan agar pembaca dapat mempercayainya. Alhasil yang ada jika kita tidak selektif dalam menyerapnya dapat melemahkan paham kebangsaan kita dan membuat kita sesama anak bangsa akan saling dibenturkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” papar Ketua Panitia Kegiatan Saswal Ukba.

 

Olehnya itu, sambung Saswal Ukba, mengatakan bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita harus berpedoman kepada nilai dasar negara yaitu pancasila.

 

“Saya berharap agar kegiatan ini bernilai positif kepada peserta yang hadir dan menjadikan pijakan perilaku kehidupan kepada setiap insannya,” kata Saswal Ukba

 

Diakhir materi diskusi, moderator Bung Zulzaman (Mantan Ketua GMNI Kendari) menyimpulkan bahwa Konsepsi kebangsaan Bhineka Tunggal Ika yang merupakan salah satu senyawa dari ideologi bangsa Indonesia, yakni Pancasila, merupakan sebuah cerminan betapa Indonesia menghargai dan menghormati perbedaan, keragaman, dan kemajemukan dalam kerangka persatuan dan kesatuan Indonesia.

 

“Dalam kontkes inilah, semangat kebangsaan yang menghargai perbedaan, kemajemukan, pluralisme dan keanekaragaman harus dijunjung tinggi dan ditanamkan secara simultan kepada anak cucu generasi penerus bangsa Indonesia agar supaya mereka menyadari hakekat bangsa Indonesia yang luas dan bervariasi ini,” ungkap Zulzaman.

 

Menurutnya, Hal ini sangat penting mengingat saat ini dalam memasuki era revolusi industri 4.0 atau era yang sering disebut sebagai era disrupsi, inovasi berbasis digitalisasi merupakan urgensi yang tidak bisa diabaikan. Seluruh komponen masyarakat bangsa ini Indonesia yang hidup di era ini dituntut serba taktis dan inovatif: mampu mengakomodasi semua kebutuhan yang bisa mendukung kualifikasi dan kompetensi diri. Ada kecenderungan dikalangan generasi muda sebagai penerus bangsa Indonesia mulai menipis semangat kebangsaan dan bahkan tidak tahu makna dan hakekat dari perbedaan dalam kesatuan yang dilahirkan oleh bapak pendiri bangsa Indonesia ini.

 

“Maraknya konflik politik, kekerasan dan lain sebagainya telah mengindikasikan mulai menguatnya gejala disintegrasi bangsa yang bermuara pada gerakan-gerakan separatis secara sporadis di beberapa daerah di Indonesia,”  tambah Zulzaman.

 

Untuk diketahui, Tema Dialog ini tentang bagaimana peran pemuda dan mahasiswa didalam menangkal Guncangan/menghadapi era industri 4.0. Tema ini diangkat sebagai salah satu upaya edukasi bagi pemuda dan mahasiswa agar pemahaman terkait prinsip dan pola kerja di era ini semakin baik. Sebab jika perkembangan teknologi di era ini tidak dipahami dan dimanfaatkan dengan baik, akan menjadi boomerang yang malah dapat mendisrupsi penggunanya itu sendiri.

 

Laporan : Tim

No Comments