Filantropis = Kandidat Bupati/Walikota ?

31 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

“Bill Gates (CEO Microsoft) atau Warren Buffet (CEO Berkshire Hathaway), yang masing-masing memiliki taksiran kekayaan berkisar pada angka 79,2 miliar dolar Amerika atau setara dengan Rp1.086 triliun untuk Bill Gates dan 66,7 miliar dolar Amerika atau setara dengan Rp 872 triliun untuk Warren Buffet” (dikutip dari esquire Indonesia 2016), mereka inilah sosok filantropis (para pelaku filantropi) dunia yang terkenal.

Pasangan suami istri “Bill Gates dan Melinda”, memiliki sebuah yayasan filantropi “Bill and Melinda Gates Foundation”, sebuah yayasan swasta yang memiliki kepedulian dibidang kemiskinan, kesehatan, dan teknologi informasi. Buffet adalah satu penyumbang yayasan tersebut sebesar 2 miliar dolar Amerika setiap tahunnya, bukan angka yang kecil memang, tapi bagi mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan jumlah kekayaannya, sebab mereka adalah miliarder.

Namun haruskah seseorang menjadi miliarder dahulu untuk bisa menyumbang sehingga kemudian dianggap filantropis?. Filantropis melakukan semua itu tidak hanya sekedar menyumbang tapi merujuk pada kegiatan konkrit untuk memberdayakan orang-orang yang tidak mendapat akses untuk kesejahteraan, yang di Indonesia tidak sedikit jumlahnya (kaum miskin papah), hidup dibawah garis kemiskinan. Sementara dana yang digunakan tidak mesti dari kantong sendiri, dapat saja berasal dari lembaga-lembaga donor atau dengan berkegiatan bisnis.

“Semangat filantropi di negeri Indonesia akan kelihatan besar pada saat-saat momen tertentu, misal ada hajatan politik/dalam pesta demokrasi. Namun niat filantropinya sepenuhnya bergeser dan bersifat sangat sementara dan bahkan mungkin dapat terjerat pada pelanggaran hukum”.

Namun di Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, seorang wanita setengah paruh baya yang sudah dua dekade lebih mendirikan sebuah yayasan Taefan Pah, berkat jerih payahnya beliau memperoleh penghargaan Prince Clauss Award, sebuah penghargaan bergengsi dari Kerajaan Belanda bagi mereka yang berdidekasi dibidang pengembangan budaya. Dialah Yovita Bastian yang mampu menciptakan kemandirian sebanyak 400 wanita penenun. Pesan moral yang dapat diambil, bahwa berbagi dengan niat dan semangat yang lurus tidak kemudian menghantui kita terjerat dengan hukum dan kemiskinan.

Penulis : Maranginang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *